Jakarta. Badan Pengawas Makanan dan Obat (BPOM) hari ini (Rabu, 14 September 2022) melakukan sosialisasi serta pengujian sampel Pangan Jajanan Anak Usia Sekolah (PJAS) di Kantin MTsN 19 Jakarta. Hal ini dilakukan BPOM ke beberapa sekolah agar meningkatkan pemahaman komunitas sekolah tentang keamanan pangan.

Ada 10-22 juta total kasus diare akibat pangan tercemar di Indonesia mengakibatkan beban ekonomi sebesar ± Rp. 64,8-226,3 Trilyun. Kasus pencemaran pangan ini terjadi akibat banyaknya pangan-pangan yang tercemar baik dari pencemaran biologis, kimia maupun fisik.

Pencemaran biologis terjadi karena faktor biologis misalnya ketidak higienisan pada proses pengolahan (kebersihan tempat/cara pengolahan), keamanan kemasan, rasa, warna dan bau yang tidak normal. Pencemaran fisik dapat berupa tercampurnya benda asing seperti rambut, kuku, serangga atau kerikil dan panganan yang dibungkus menggunakan streples. Pencemaran kimia dapat berupa pencampuran bahan-bahan kimia berbahaya seperti boraks/ formalin/ pewarna tekstil, makanan yang gosong, penambahan BTP (Bahan Tambahan Pangan) contoh pemanis buatan (sikarin/ siklamat), pewarna dan pengawet (sodium benzoat) yang berlebih dan dari kemasan yang tidak memenuhi standar (kertas bekas/ koran). 

Penggunaan bahan-bahan kimia dan BTP yang berlebih dapat menimbulkan banyak penyakit pencernaan misalnya menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan, dan bila dikonsumsi dalam jangka panjang menyebabkan gangguan fungsi hati, kandung kemih, bahkan kanker. 

Adapun ciri-ciri pangan mengandung bahan kimia berbahaya:

  • Pangan berformalin (Cairan yang tidak berwarna, mudah larut dalam air dan alkohol, serta memiliki bau yang sangat menyengat, biasanya digunakan untuk mengawetkan mayat, bahan perekat kayu lapis, atau disinfektan peralatan rumah sakit) misalnya: Mie yang tidak mudah putus, tidak lengket, lebih mengkilat dan berbau khas formalin, tahu yang tidak mudah hancur dan bertahan lebih dari 1 hari di suhu ruang, ikan dan daging segar yang tidak dihinggapi lalat dan berbau khas formalin.
  • Panganan mengandung boraks (senyawa berbentuk kristal putih): bakso, kerupuk kendar/rambak, lontong, cilok dll yang bertekstur sangat kenyal, tidak lengket, terasa getir (agak pait) dan awet lebih lama di suhu ruang. 
  • Panganan yang mengandung pewarna tekstil Rodhamin B (Pewarna sintetis berbentuk serbuk merah keunguan dan dalam larutan akan berwarna merah terang berpendar) & Methanyl Yellow (Pewarna sintetis berwarna kuning kecoklatan dan berbentuk padat atau serbuk) memiliki ciri-ciri berwarna merah/kuning yang mencolok dan cenderung berpendar, banyak memberikan titik-titik warna yang tidak merata. 
  • Panganan yang mengandung BTP (Bahan Tambahan Pangan) yang berlebihan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan

Petugas BPOM menjelaskan 5 kunci keamanan pangan agar kita dapat memilih panganan yang sehat dan aman yaitu:

  1. Kenali pangan aman yaitu yang bebas dari pencemaran biologis, kimia dan fisik.
  2. Beli pangan yang aman. Membeli pangan di tempat yang bersih, membeli dari penjual yang sehat dan bersih, pilih makanan yang telah dimasak, beli panganan yang dipajang, disimpan dan disajikan dengan baik serta konsimsi pangan secara benar. 
  3. Baca label kemasan pangan dengan seksama. 
  4. Jaga kebersihan dengan cara mencuci tangan sebelum menyentuh makanan. 
  5. Catat/ laporkan jika menemukan panganan yang mencurigakan.   
Sosialisasi ini sangat penting sifatnya untuk diketahui oleh semua orang. Sudah seharusnya masyarakat memperhatikan panganan yang sering dikonsumsi agar dapat menjaga kesehatan. 

By mtsn19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *